Buah Ketaatan Seorang Murid

Membahas tentang karomah memang tidak akan pernah ada habisnya, ada berbagai macam cara untuk memperoleh karomah (kelebihan) mulai dari tirakat, puasa, dzikir dan lain sebagainya. Namun Bagaimana jika karomah itu didapat karena ketaatan seorang murid terhadap gurunya?

Cerita ini bisa dijadikan sebuah inspirasi dalam berperilaku positif terhadap apa yang di sampaikan oleh sang guru. Alkisah diceritakan ada seorang ulama (kyai) di wilayah mesir yang memiliki murid sangat banyak hingga ribuan murid dariberbagai negeri. Ulama ini merupakan salah satu dari murid Imam Nawawi (pengarang Hizb Ikhfa’ Nawawi, Kitab Riyadus Shalihin, Al Adzkar, Sunnah Arba’in dll) yang telah menjadi seorang ulama besar di negrinya.

Hingga suatu hari Imam Nawawi mendatangi pesantren muridnya tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Melihat kedatangan sang guru ke pesantrenya Ulama tersebut tentu amat sangat senang, sebab tidak sembarang guru menyempatkan waktu mendatangi muridnya karena kesibukan seorang ulama besar seperti Imam Nawawi.

Dalam perbincangan antara Guru dengan Muridnya tersebut, Imam Nawawi berpesan kepada muridnya “Wahai Abdulloh, kamu akan memiliki seorang murid, aku berpesan padamu jagalah murid ini baik baik”. Mendengar ucapan sang guru, ulama ini berfikir “apa maksud gurunya tersebut, bukankah aku sudah memiliki begitu banyak murid yang hebat mulai hafal Al Quran, Al Hadis dan sebagainya, tetapi mengapa yang disebut hanya seorang saja, siapa dia???”

Waktu pun berganti sang kyai menantikan kehadiran murid yang diceritakan oleh gurunya tersebut, datang silih berganti murid yang ingin belajar kepada ulama tersebut,hingga saking banyaknya yang masuk menjadi murid ulama tersebut lupa akan pesan gurunya.

Hingga pada suatu hari datang seorang pemuda ke pesantren ulama tersebut, dengan maksud meminta ijin untuk belajar di pesantren. Terjadilah percakapan antara ulama dengan pemuda tadi.

Pemuda :Assalamu’alaikum Wr. Wb Kyai…

Ulama : Walaikum salamWr.Wb, ada keperluan apa kamu datang ke pesantren?

Pemuda : Maaf kyai nama saya A, saya bermaksud ingin belajar disini di pesantren yang kyai pimpin

Ulama : Boleh, kamu harus mengikuti aturan yang ada di pesantren ini terus biayanya sekian xxxxx, itu biaya sebagai ganti kitab, baju seragam serta biaya operasional

Pemuda : Sebelumnya mohon maaf kyai, tapi saya tidak punya uang, saya datang dari jauh kesini ingin menjadi murid kyai, tetapi saya tidak memiliki uang, orang tua saya hidup pas pasan, hanya kemauan yang saya miliki untuk belajar ke pesantren ini

Ulama :Weleh…, lha gimana kamu bisa belajar kalau kitab kamu tidak punya, buku tidak ada, yang di pakai belajar apa? semua ilmu yang aku ajarkan berdasarkan kitab yang sudah aku tulis dalam sebuah kitab khusus, semua murid murid disini memiliki kitab tersebut, lha kalau kamu tidak punya kitab gimana kamu mengaji, gimana kamu belajarnya, apa yang kamu baca nanti?

Pemuda : Itulah maksud saya kyai, keinginan untuk belajar dengan kyai sangat tinggi, saya rela berbuat apa saja asalkan saya bisa belajar dengan kyai.

Ulama : hmm… begitu ya (sejenak berfikir). Oke karena kamu sudah niat untuk belajar tetapi kamu tidak memiliki biaya untuk mengganti kitab, aku punya ide, bagaimana kalau kamu bekerja kepadaku.

Pemuda : Bisa kyai, akan saya laksanakan perintah kyai, pekerjaan apakah itu kyai?

Ulama : Ok jika begitu pekerjaan kamu adalah beternak itik, aku kasih kamu dua itik jantan dan betina, kamu ternak sepasang itik ini sampai jadi 1000 ekor, tapi kamu jangan beternak di wilayah sini, nanti baunya bisa mengganggu konsentrasi belajar murid yang lain.

Pemuda : Baik kyai, saya akan beternak di tempat yang agak jauh dari keramaian agar tidak mengganggu orang sekitar.

Ulama : Satu lagi, selain itu kamu jangan kembali kesini sebelum kamu hafal kitab ini (Kitab Al Fiyah Ibnu Malik), sambil menyerahkan sebuah kitab kepada pemuda tadi. Jadi tugas kamu adalah beternak itik sampai menjadi 1000 ekor plus kamu harus hafal kitab alfiyah ini (kitab alfiyah adalah kitab nahwu / ilmu alat yang berupa nadhom / sya’ir berjumlah 1000 bait syair), jika kamu berhasil kamu aku beri kitab yang di pelajari di pesantren ini.

Pemuda : Baik kyai saya laksanakan perintah kyai.

Pemuda tadi undur diri dihadapan kyai sambil membawa dua ekor itik dan sebuah kitab kecil menuju tempat yang agak jauh dari kawasan penduduk agar bisa fokus beternak itik hingga menjadi 100 ekor sambil menghafal kitab Alfiyah sesuai perintah sang kyai.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tak terasa sudah setahun lamanya pemuda tadi beternak itik. Di waktu yang sama karena kesibukan kyai mengurus pesantren, sang kyai pun lupa akan keberadaan pemuda ini. Jenuh.. pun menghampiri pemuda tadi, ada rasa putus asah hendakmelanjutkan pekerjaan beternak itik sambil menghafal alfiyah, dalam benaknya pemuda berfikir untuk berhenti beternak dan kembali pulang karena mustahil bagi orang miskin sepertinya bisa belajar di pesantren terkenal mengingat tidak adanya biaya untuk membeli peralatan belajar.

Dalam kejenuhan itu tiba tiba pemuda tadi dikagetkan dengan sosok suara yang tidak jelas dari mana datangnya, ya suara tanparupa.

Suara : Wahai A, mengapa kamu putus asah bukankah awal tujuanmu untuk belajar

Pemuda : Siapa kamu wahai suara?

Suara : Aku adalah khodam dari kitab yang kamu baca (konon kitabAlFiyah bukan kitab nahwu biasa, didalamnya mengandung sebuah karomah yang sangat tinggi, salah satu kyai di Indonesia yang sangat ngefans dengan kitab ini adalah Kyai Kholil Bangkalan Madura, bahkan Kyai Kholil Bangkalan dikenal dengan Kyai Al Fiyah, karena sangat kagum dengan kitab ini, bahkan konon juga,KyaiKholilketika membuka Kasyaf muridnya beliau selalu memakai kitab alfiyah ini)

Pemuda : Bagaimana aku tidak jenuh, sudah setahun lamanya aku disini beternak itik, tapi targetku masih jauh, menghafal Alfiyahpun aku kesulitan masih belum juga hafal padahal sudah setahun lamanya, pikiranku kacau hatiku galau

Suara : Wahai A, belajar ilmu itu berat, membutuhkan pengorbanan dan waktu yang lama, kamu pikir belajar ilmu bisa kamu tempuh dalam waktu setahun?, sudahlah jangan bermimpi yang tidak tidak, jalankan saja perintah gurumu, dan teruslah menghafal kitab alfiyah maka aku akan senantiasa bersamamu agar kamu tidak kesepian

Pemuda : Begitu ya, baiklah setidaknya aku ada teman berbicara walaupun tidak ada wujud fisiknya

Suara : Sekarang coba kamu hitung berapa jumlah itik peliharaanmu

Pemuda : baik.. (mulai menghitung….) haishhh susah lah, itik ini selalu bergerak mana bisa aku menghitung jika begini.

Suara :Coba kamu perintahkan itik tersebut untuk berhitung

Pemuda : He…. memerintah itik? itik pun bisa di perintah berhitung?, apa kau yakin suara?

Suara : Lakukan saja apa kataku

Pemuda : Okelah kalau begitu. “itik… kalian berbaris dan mulai menghitung”

Diluar dugaan ternyata itik itik tersebut mengikuti perintah pemuda tadi, sambil berbaris layaknya manusia itik itik tersebut menghitung dirinya sendiri “satu, dua, tiga……tiga ratus satu”

Pemuda : 301 ekor??? itu sebanyak jumlah hafalan yang aku hafal, ini berarti satu itik aku baru menghafal 1 bait alfiyah, jika setahun 301 maka setidaknya butuh 3-4 tahun, sekarang sudah setahun berarti masih 2-3 tahunan lagi, Alhamdolellah.. semangat….

hari hari pemuda tersebut pun semangat kembali, sambil beternak itik, pemuda tersebut sambil menghafalkan kitab alfiyah, hingga tiga tahun berlalu jumlah itik sudah mencapai target yang di tentukan sang guru 1000 ekor plus alfiyah 1000 bait sudah hafal. Tiba waktunya pemuda tersebut kembali ke pesantren.

Pemuda : Assalamualaikum kyai

Ulama : Walaikumsalam siapa ya???

Pemuda : Saya A, murid kyai

Ulama : Si A, A yang mana kok aku gak pernah lihat kamu, kamu di blok pesantren mana?

Pemuda : Maaf kyai saya tidak di blok pesentran, saya di luar pesantren, sekitar 3 tahun lalu, kyai memerintahkan saya untuk beternak itik

Ulama : Masya Alloh… iya iya lupa saya, maaf maaf lupa saya kalau aku pernah menyuruh kamu beternak itik. Iya gimana, terus gimana ceritanya?

Pemuda : Titah kyai sudah saya jalankan, itik sudah jadi 1000 ekor serta saya sudah hafal kitab al fiyah.

Ulama : oh.. benarkah? coba kamu baca alfiyah biar aku dengarkan

Pemuda : mulai membaca alfiyah di hadapan kyai

Ulama : bagus kamu sudah hafal, terus itiknya dimana

Pemuda : masih di tempat saya kyai

Ulama : Coba kamu bawa kesini semua itiknya, kebetulan lusa ada kelulusan murid pesantren, jadi pasti nanti akan ada banyak tamu dari orang tua serta para guru dari berbagai pesantren datang kesini

akhirnya pemuda tadi pergi mengambil itik yang di peliharanya selama 3 tahun menuju pesnatren.

Pemuda : ini semua kyai, jumlahnya sudah saya hitung 1000 ekor

Ulama : bagus, sekarang kamu sembelih semua itik ini, lalu kamu masak untuk persiapan kelulusan dan pertemuan para guru lusa

Pemuda : Injih kyai

akhirnya satu persatu itik di sembelih sama pemuda tadi dan di masak sesuai perintah gurunya. Hingga acara kelulusan tiba, datang berbagai tamu undangan dan wali murid pesantren, saking banyaknya tamu, pemuda tadi sampai kewalahan mempersiapakan makanan untuk para tamu yang hadir, sampai sampai semua makanan yang di persiapkan habis sebagai jamuan tamu undangan danpemuda tadi belum merasakan sama sekali masakan itik yang di peliharanya selama 3 tahun belakangan.

rasa kecewa pun muncul pada diri pemuda tadi “lha iya yang memelihara saya, yang nyembelih saya, yang masak saya, kok ya saya gak kebagian sama sekali”, dalam kekecewaanya tersebut lagi lagi muncul suara ghaib yang biasa menemaninya selama beternak itik

Suara : Wahai A, ingattujuanmu itu belajar, berbakti kepada gurumu, perkara kamu tidak dapat jatah makanan buat apa kamu pikirkan, itu bukan tujuanmu, ingat tujuanmu belajar fokuslah pada tujuanmu itu

Pemuda : baiklah, terima kasih sudah mengingatkanku

setelah acara selesai, aktifitas pesantrenpun kembali seperti semula, sang Ulama memanggil pemuda tadi

Ulama : A terima kasih ya kamu sudah membantuku

Pemuda : Injih kyai, itu sudah tugas saya

Ulama : ini kitab yang pernah aku janjikan kepadamu, jika kamu berhasil menjadikan itik jadi 1000 kamu aku beri kitab sebagai gantinya agar kamu bisa belajar di pesantren ini

Pemuda : Injihh kyai terima kasih (dengan wajah gembira karena akhirnya pemuda mendapatkan kitab untuk belajar)

Ulama : satu lagi A, kamu makannya apa? maksud aku di pesantren nanti kamu makan apa, karena teman temanmu yang ada disini mereka rata rata orang berada, sehingga ketika mereka lapar mereka membeli sesuatu untuk di makan, nah kalau kamu, makanmu bagaimana?

Pemuda : saya terbiasa makan akan saja kyai, selama beternak saya terbiasa makan makanan di sekitar tempat saya

Ulama : hmmmm… (sejenak berfikir) begini saja, bagaimana kalau kamu bantu cuci baju, murid murid disini kan rata rata orang kaya, tujuan mereka belajar dan fokus belajar, saking fokusnya terkadang mereka malas cuci pakain mereka, nah kalau kamu mau kamu bantu kumpulin baju mereka lalu kamu cuci pakaian mereka, sebagai gantinya nanti aku minta jatah ke mereka buat makan kamu

Pemuda : oh injih kyai, siap saya laksanakan

Akhirnya keseharian pemuda ini pun berganti, setiap hari mengumpulkan pakaian kotor untuk di cuci sesuai perintah kyai, tidak lupa setiap kali mencuci baju pemuda ini sambil membaca Alfiyah karena pemuda sudah hafal kitab ini, hitung hitung mencuci sambil bersyair.

tapi ada hal yang membuat pemuda ini sedih, sebab tiap kali mencuci baju, dan saking banyaknya baju yang di cuci pemuda ini tidak bisa belajar mengaji dengan kyainya, bagaimana tidak ketika waktu belajar mengaji tiba, pemuda masih berurusan dengan baju yang di cucinya, hingga setahun lamanya pemuda ini menjadi tukang cuci baju bagi teman temannya.

rasa sedih pun muncul dalam benak pemuda, bagaimana tidak sudah niat belajar tetapi selalu saja ada kendala. Awal belajar kendalanya tidak memiliki kitab, sekarang semua kitab sudah lengkap tetapi belum pernah belajar langsung dengan gurunya, paling paling kalau malam belajar sendiri sambil membuka kitab pemberian gurunya.

dalam keadaan ini seperti biasa muncul lagi suara ghaib

Suara : Sudah lah A gak usah kau sesali, jalankan saja perintah gurumu, nanti pasti akan ada waktunya kamu bisa belajar seperti teman temanmu yang lain

Pemuda : baiklah suara, terima kasih sudah mendukungku

dilain sisi kegiatan pemuda ini diperhatikan oleh salah seorang murid lain sebuat saja murid ini bernama B, ketika si A sedang mencuci baju, si B memperhatikan kalau si A selalu membaca Al Fiyah, dan kalau malam si B melihat si A jarang tidur lebih banyak membaca kitab pemberian gurunya walaupun belum sekalipun belajar secara langsung dengan gurunya layaknya murid lain.

dalam kondisi seperti ini sang kyai pun bermimpi, dalam tidurnya dia didatangi oleh gurunya yaitu Imam Nawawi “Abdulloh muridku, kamu sudah melupakan pesanku akan keberadaan murid yang pernah aku singgung dulu”, melihat mimpi seperti ini serta merta sang ulama terbangun dari tidurnya. Astaghfirulloh… aku melupakan pesan guruku.

Esoknya sang ulamaberjalan disekitar pesantrennya, memperhatikan satu persatu muridnya, mana murid yang di wasiatkan oleh gurunya (Imam Nawawi), pada suatu tempat sang Ulama mendengar suara syair dari bait Alfiyah yang di ucapkan oleh si A, sang ulama pun mendekat dilihatnya si A sedang mencuci baju sambil membaca Alfiyah.

Ulama tersebut berfikir “apa ini murid yang di sampaikan Imam Nawawi kepadaku, dari sekian ribu murid yang ada kenapa dia istimewa sampai sampai Imam Nawawi datang ke pesantren ini berpesan kepadaku secara langsung”

Akhirnya ulama tersebut mulai bertanya kepada murid murid lain tentang kebiasaan si A kesehariannya di pesantren tersebut, namun tidak ada yang bisa menjawab karena kebanyakan murid pesantren hanya tahu jika si A kesehariannya cuci baju dari siang sampai sore karena saking banyaknya cucian yang di bersihkan.

hingga muncul si B pemuda yang biasanya memperhatikan kegiatan si A. si Bpun bercerita jika setiap harinya si A mencuci baju, terkadang dia sedih karena tidak pernah bisa ikut belajar seperti murid lainnya, lalu kalau malam si A suka membuka kitab, membaca kitab danselesai itu selalu menjalankan solat malam dan berdzikir ketika semua murid sudah tertidur.

“hmm…. begitu ya” ucap sang Ulama. Begitulah keseharian si A kyai, kata si B

“kita lihat sejauh mana kemampuan si A ini, jika memang sesuai perkataan si B” pikir Ulama.

Akhirnya sang ulama membuat suatu sayembara, sayembaranya berbunyi “Pada Kitab ini, kitab karangan ulama sendiri, terdapat beberapa kesalahan yang sengaja di buat salah, jika ada yang bisa mencari kesalahannya di mana, dan bisa membetulkannya, maka dia siapapun itu akan mendapatkan sajadah dan sorban khusus pemberian sang ulama”, perlu di catat kitab yang di maksud adalah kitab salaf atau kitab kuning di mana tidak ada harokatnya hanya huruf tanpa harokat (kitab kuning / kitab salaf)

melihat sayembara tersebut semua murid pesantren mengikuti mulai dari junior hingga murid senior bahkan murid yang sudah diangkat menjadi guru di pesantren tersebut ikut sayembara ini, namun tidak satupun diantara mereka menemukan letak kesalahan dari kitab yang di sayembarakan oleh sang guru.

“bagaimana apa masih ada murid yang belum mengikutisayembaraini?” tanya Ulama.”ada kyai….” teriak si B dari kejauhan. Siapa yang belum, suara riuh ramai dari ucapan para santri. “Ah… siapa, siapa yang belum” tanya kyai. “Si A kyai dia belum ikut sayembara” jawab si B. “di mana si A” tanya kyai. “dia masih cuci baju kyai” jawab si B

Si A…?? makin riuh suara dari murid murid lain, si A kan gak pernah belajar mana mungkin dia bisa, si A kan tiap hari nyuci mana bisa dia baca kitab gundul, si A kan bla bla bla riuh suara dari murid pesantren. “coba kamu panggil si A kesini” sahut kyai. “Injih kyai” jawab si B

lalu si B memanggil si A dengan alasan kyai memanggil si A.

Pemuda (si A) : Injih kyai, kyai memanggil saya

Ulama : ya… aku memanggilmu, aku membuat sayembara, pada kitab ini aku membuat kitab dimana didalamnya sengaja ada kalimat yang aku salahkan, dan teman temanmu semuanya sudah mencari dimana letak kesalahannya tetapi tidak menemukan, tinggal kamu seorang yang belum mencobanya, kalau kamu berhasil memecahkan sayembara ini, kamu aku beri sajadah dan sorban dariku

Pemuda : boleh saya lihat kitabnya kyai

Ulama : silahkan

sang pemuda pun membaca kitab karangan ulama tersebut dengan seksama dari depan hingga akhir halaman.

Pemuda : maaf kyai, pada halaman sekian terdapat kalimat xxxx seharusnya kalimat yang benar adalah vvvvvv terus pada halaman sekian terdapat kalimat xxxxxx seharusnya vvvvv dan bla bla bla

ParaMurid : $%$@&#&^@&# (bengong)

Ulama : luar biasa, kamu bisa menemukan kesalahan dari kitab yang aku buat, dimana bahkan para murid senior dan guru lain pun tidak bisa menemukan kesalahannya. kalau begitu selamat kamulah pemenangnya dan kamu berhak atas hadiah yang aku janjikan.

^%*^*^*^^%$#%#% suara riuh gemuruh ramai dari ucapan para santri, semuanya pada heran bagaimana si A bisa tahu kesalahan kitab yang di buat gurunya, padahal dia belum sekalipun belajar dengan gurunya tersebut.

Melihat kondisi seperti ini makin yakinlah sang kyai bahwa si A adalah murid yang telah di sampaikan oleh gurunya terdahulu, untuk menyempurnakan pesan dari sang guru, kyai tersebut memberikan satu ujian lagi yang harus di lakukan oleh si A.

Ulama : si A aku punya tugas untukmu, apakah kamu sanggup melakukannya?

Pemuda : tugas apakah itu kyai

Ulama : aku ingin kamu melakukan khalwat, kamu tirakat, kamu berpuasa selama 40 hari lamanya, tidak boleh berhubungan dengan siapapun, tidak boleh berbicara dengan siapapun, tidak keluar dari kamar kecuali hanya untuk ke kamar mandi saja, selama itu makanan untuk berbuka dan sahur nanti ada yang menyediakan, jadi kamu hanya boleh makan jika ada makanan di depan pintu kamar kamu

Pemuda : Insya Alloh kyai, saya sanggup melaksanakan (mengingat sebelumnya si A pernah hidup sendiri selama 3 tahun semasa beternak itik, jadi tirakat selama 40 hari bukanlah hal memberatkan)

Akhirnya pemuda tadi melakukan tirakat sesuai perintah gurunya, hari gari dia dialam kamar melakukan dzikir dan sholat, hubungan dengan dunia luar terputus, dia hanya keluar kamar jika ada keperluan ke kamar mandi saja.

Akan tetapi makanan yang telah di sampaikan gurunya, akan menyediakan makanan baginya tidak pernah kunjung datang, siang, malam kegiatan si A hanyalah berdzikir, khalwat, tirakat tanpa pernah makan apapun selama 40 hari lamanya.

Wal hasil tubuh si A pun menjadi lemas, bahkan untuk berdiri sekalipun susah, si A menjadi kurus karena tidak ada asupan makanan sama sekali selama hampir dua bulan lamanya.

Lalu tiba tiba ada sayembara dari sang kyai, sang kyai mengumpulkan seluruh muridnya di sebuah halaman sambil mengadakan sayembara yang berbunyi Barang siapa yang bisa membersihkan gentong berlumut yang berisi air ini, tanpa merubah warna, bentuk, dan bau air dan tanpa membuang air dari tempat asalnya, maka dia akan diangkat menjadi menantu untuk dijadikan penerus sang kyai

Semua murid hanya bisa melihat, berfikir dan memandangi bagaimana caranya membersihkan gentong tanpa merubah warna air, lumut kalau di bersihkan sudah pasti airnya akan berubah menjadi keruh dan baunya pasti berbau lumut, wah jangan jangan kyai sudah gak beres nih.

Riuh gemuruh para santri saling bertanya satu sama lain untuk mencari solusi bagaimana caranya membersihkan gentong tersebut, setelah sekian lama tak ada satupun santri yang sanggup melakukan sayembara tersebut, sebab itu hal yang mustahil bisa dilakukan bahkan dengan alat canggih sekalipun pasti air akan berubah.

Bagaimana apa ada yang bisa mengikuti tantangan sayembara ini? Tanya sang kyai. Hening. Semua murid, semua santri diam hening, apa masih ada murid disini yang belum mengikuti sayembara ini, ataukah sudah semuanya Tanya sang kyai. Hening lagi karena semua merasa sudah hadir, hingga tiba tiba terdengar suara ada pak kyai, masih ada satu murid lagi yang belum tau sayembara ini teriak si B dari kejauhan.

Ah, si B, siapa yang kamu maksud tadi Tanya Kyai, si A pak kyai dia tidak ada disini, dia masih ada di kamarnya jawab si B. oh ya kamu panggil dia kesini jawab sang kyai, maaf pak kyai dia tidak bisa karena tubuhnya lemah jawab si B. kalau gitu kamu bopong dia kesini, sebisa mungkin dia datang kesini karena semua berhak ikut sayembara ini jawab sang kyai.

Lalu si B pun mendatangi kamar si A, dengan di bopong sesekali sempoyongan karena kondisi si A yang lemas, menuju tempat sayembara tadi.

Ulama : kamu kenapa si A kok tubuhmu kurus dan lemas kayak gini

Pemuda : maaf pak kyai sesuai perintah pak kyai dulu, saya melakukan tirakat dan tidak makan kecuali makanan yang disediakan di depan pintu kamar saya, namun selama tirakat saya tidak pernah sekalipun mendapati makanan di dekat kamar saya, jadi saya berfikir ini adalah ujian saya

Ulama : apa???? Jadi kamu..selama ini tidak makan apapun, jadi makanan yang saya kirim tidak pernah sampai ke kamu???

Pemuda : tidak kyai

Ternyata selama si A tirakat makanan yang di sediakan oleh kyai tidak pernah di berikan ke pemuda tetapi di berikan kepada murid lain oleh si pengantar makanan

Ulama : baiklah saya minta maaf akan hal itu, begini si A saya mengadakan sayembara, apakah kamu sanggup membersihkan lumut di gentong ini tanpa mengurangi air dalam gentong, tanpa merubah warna, bentuk dan bau airnya?

Pemuda : Insya Alloh kyai saya coba

Lalu dengan tubuh yang masih lemas si A melihat dengan seksama gentong tersebut, jika dilihat dengan seksama memang mustahil bisa membersihkan gentong tersebut tanpa merubah apapun di dalamnya.

Lalu tanpa di duga dihadapan para santri dan kyai, pemuda tadi mengambil sebuah kayu tongkat, dan di pukulah gentong tadi pyarrrrrr gentong pecah berkeping keeping.

&^(*&^&%%$#*&* semua santri pada bengong melihat pemandangan yang terjadi, ternyata air yang ada di dalam gentong tidak jatuh, tidak semburat tetapi persis dengan bentuknya seperti semasa di dalam gentong, dan gentongpun pecah menjadi berkeping keping.

Pemuda (si A) : si B maukah kamu membantuku

Si B : siap si A

Akhirnya si A dan si B membersihkan pecahan gentong tadi dari lumut yang menempel satu persatu, setelah selesai di bersihkan, satu persatu gentong di susun kembali disekitar air yang tidak berubah wujudnya tadi lalu si A berdoa dan ajaib gentong yang pecah tadi utuh kembali semula

Riuh rame gemuruh.. seakan tidak percaya dengan kejadian yang dialami barusan, si A orang yang selama ini tidak pernah belajar mampu memecahkan setiap sayembara yang diadakan oleh sang guru.

Sesuai janji sang kyai bahwa pemenang sayembara akan di jadikan menantunya, namun dikarenakan sifat spiritual pemuda yang sudah terlanjur tenggelam dalam dunia spiritual, pemuda tersebut menolak hadiah yang berikan gurunya, si A lebih baik mendalami spiritual daripada terjebak dalam urusan perkawinan yang mungkin nantin akan menurunkan tingkat spiritualnya.

Mendengar penjelasan tersebut, dengan berat hati kyaipun menerima keputusan si A, namun sang kyai meminta kepada si A untuk mengajarkan kepada para murid lainnya tentang ilmu hakikat atau ilmu spiritual, si A pun menyanggupi tapi dengan sarat yang mengajarkan kelak bukan si A sendiri tetapi si B yang akan diajar langsung oleh si A.

Al hasil si B yang selama ini memperhatikan si A diangkat menjadi guru hakikat di pesantren tersebut yang mana sebelumnya telah diajarkan oleh si A yang tidak memiliki basic pendidikan yang mumpuni, hanya bermodalkan taat kepada sang guru si A mencapai tingkat spiritual yang bahkan sang kyaipun tidak pernah membayangkan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *