Asmak Sunge Rajeh (ASR)

header2
Asmak Sunge Rajeh (ASR) atau di kenal dengan asmak rajah air yang memiliki karomah sangat banyak dan multifungsi, keuatannya tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit dengan media air, kekebalan, pengasihan tetapi juga mampu untuk merusak secara fisik.

Asma Sunge Rajeh (ASR) ini memiliki banyak versi, diantaranya Asma Sungeh Raje versi Cirebon, Asma Sungeh Raje versi Blora, hingga Asma Sungeh Raje versi Madura

Dikarenakan karomahnya yang sangat besar ini menyebabkan asmak ini sangat diminati tidak hanya dalam negeri saja tetapi hingga luar negeri.

Beberapa karomah atau kelebihan ASR yang bisa kami jelaskan secara singkat kurang lebih sebagai berikut :
Pagar badan fisik maupun non fisik, sihir, tenung, sihir, hipnotis, memindah mendung agar tidak hujan, pengobatan, pengasihan, wibawa, daya tarik tinggi, aura, kekuatan serta apa yang kita inginkan atas ijin Alloh SWT bisa dengan menggunakan ASR ini.

Mahar Pengisian

ASR atau biasa dikenal dengan Asmak Sunge Rajeh, yang berarti Asmak Raja Air. Konon Asmak Sunge Rajeh ini adalah ilmu yang di ijazahkan langsung oleh Nabi Khidir. Di Indonesia sendiri Asmak Sunge Rajeh terdapat beberapa versi, seperti asmak sunge rajeh versi madura, asr versi cirebon, asr versi blora, asr versi jombang dan sebagainya.

Bahkan ada yang mengklaim bahwa ASR terkuat adalah ASR Madura yang dipercaya sebagai ASR Versi Aslinya, namun bagi mereka yang mendapatkan ASR Cirebon dari Eyang Kuwu Sangkan, mengklaim bahwa ASR Cirebon adalah yang asli, lalu mana diantara ASR tersebut yang asli?

Sudah pasti ASR yang asli adalah ASR yang dimiliki oleh masing masing pengamal, baik itu versi madura, versi cirebon, jombang, blora, dan lain sebagainya, semuanya adalah asli karena kesemuanya memiliki karomah, kekuatan daya ghoib yang tinggi.

Mengapa admin mengatakan semuany asli? Sebab “amalan adalah sebuah tangga” untuk mencapai suatu tujuan, baik asr madura, cirebon, blora dan sebagainya mempunyai satu tujuan yang sama yaitu “power ghaib atau daya karomah / tuah sebuah mantra“, mengenai amalan mana yang paling kuat bukan terletak pada amalannya tetapi siapa yang mengamalkan.

Man Behind The Gun adalah intinya, amalan adalah alat, yang menentukan apakah senjata itu mematikan atau tidak adalah pemegang amalan, sebuah pisau bisa sangat mematikan jika di pegang yakuza atau psikopat, tetapi pisau akan jadi sangat menawan jika di pegang oleh chef atau koki.

Jadi…. tidak penting mengklaim mana yang asli mana yang modifikasi, selama itu demi kebaikan tidak ada bedanya asli atau modifikasi karena sama sama memiliki kegunaan.

Lalu mengapa ASR ini sampai memiliki banyak Versi?

Banyaknya versi ASR itu tidak lepas dari amalannya yang tidak boleh di tulis, konon pada awal pengijazahan ARS ini di turunkan kepada kedua orang saja (saya tidak membahas dari mana asalnya), sudah manjadi sifat manusia yang memiliki serba kekurangan, ketika┬ásang guru melafalkan kalimat yang mungkin kalimatnya bernada “A” di dengar oleh muridnya “E” atau mungkin “H”, sehingga dari kedua murid tersebut menerima kalimat yang berbeda dari gurunya.

Dari kedua murid tersebut di turunkan lagi kemurid murid lainnya sehingga murid lainnya mendapatkan kata yang berbeda juga dari sebelumnya.

Lalu mengapa kesemuanya ampuh dan sakti mandraguna padahal kalimatnya sudah sangat melenceng jauh dari aslinya?. Hal itu tidak terlepas dari “sugesti dan keyakinan” si pengamal. Seperti yang di firmankan oleh Gusti Alloh “Ana Fi Dzonni Abdi Bi” (AKU mengikuti prasangkan hamba-Ku terhadap diri-KU), artinya jika kita yakin Alloh membantu kita maka Alloh pasti akan membantu kita, namun jika kita tidak yakin Alloh tidak membantu kita maka Alloh tidak akan membantu kita.

Sama seperti kasus sebuah mantra “Ya Kayuku Ya Kayumu”, yang di ceritakan pada zaman dulu ada seorang yang ahli ibadah tetapi orang ini tidak mengerti bahasa arab atau bisa dibilang bodoh, ia hanya seorang ahli ibadah yang paling rajin diantara orang sekampung, akhirnya dia di tunjuk sebagai seorang imam di mushollah, masyarakat bukan melihat dia seorang yang pandai tetapi melihatnya sebagai seorang yang ahli ibadah yang patut dijadikan imam sholat.

Hingga suatu saat ada seorang pejuang yang tengah bersembunyi dari kejaran belanda kala itu, karena belanda melihat pejuang tersebut masuk kedalam musholla maka belanda menembaki semua jama’ah yang tengah sembahyang di musollah tersebut, dan semuanya meninggal dalam kondisi syahid namun ada satu yang masih hidup tanpa terluka sama sekali dia adalah imam musollah.

Melihat demikian belanda pun takut dan pergi karena ada manusia yang tidak mempan di tembak. Lama lama berita ini tersebar di berbagai kampung bahwa ada orang yang tidak mempan di tembak, mulailah berdatangan manusia ingin bertemu sang “anti peluru ini” untuk memperoleh ilmu yang dimilikinya.

Hingga ada seorang yang mengerti bahasa arab bertemu dengan manusia anti peluru tersebut. Sang imam pun menceritakan bahwa dia bukan penduduk kampung tersebut, melainkan dia dari kampung sebelah, ketika dia dikampungnya dulu ada seorang kyai berceramah bahwa jika dia membaca “ya kayuku ya kayumu” maka orang tersebut akan di beri kekuatan oleh gusti Alloh.

Akhirnya orang yang pandai tersebut menjelaskan bahwa apa yang di baca itu bukan ya kayuku ya kayumu, tetapi itu adalah lafadz dari asmaul huzna yang berbunyi Ya Hayyu Ya Qoyyum. Akhirnya sang imam mengerti bahwa kalimat yang sebenarnya adalah ya hayyu ya qoyyum, namun dikarenakan sang imam sudah terbiasa dan yakin dengan ya kayuku ya kayumu maka sang imam tetap mengamalkan amalan yang dia yakini.

Tibalah ketika sholat berjama’ah pun tiba, dan belanda datang lagi menembaki semua orang yang sholat di musholla tersebut termasuk orang yang pandai bahasa arab tersebut, namun apa yang terjadi lagi lagi sang imam selamat dari tembakan para belanda sedangkan orang yang ahli bahasa arab meninggal dunia.

Usut punya usut ternyata sang imam meyakini dengan memperkuat sugesti pada dirinya ketika dia membaca Ya Kayuku Ya Kayumu, tubuhnya terbuat dari kayu sehingga apa saja yang mengenai tubuhnya maka tubuhnya seolah olah terbuat dari kayu itulah sebabnya sang imam selamat, sedangkan orang yang mengerti bahasa arab dia hanya sebatas membaca saja tanpa meyakini atas apa yang diamalkannya.

Sama seperti itulah amalan ASR, amalan hebat bukan karena amalannya tetapi orang yang mengamalkannya.

One thought on “Asmak Sunge Rajeh (ASR)”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *